Peran Jalur Pensinyalan Janus Kinase-Signal Transducer And Activator Of Transcription (Jak-Stat) Pada Patogenesis Psoriasis
Abstract
Psoriasis adalah penyakit inflamasi kulit kronis dengan prevalensi global bervariasi antara 0,14–1,99% dan melibatkan faktor genetik, lingkungan, serta imunologik yang kompleks. Bentuk paling umum adalah psoriasis vulgaris, ditandai lesi eritematosa dan skuamosa yang dapat terjadi di seluruh tubuh, namun sering terjadi di area ekstensor dan kulit kepala. Selain menyebabkan manifestasi kulit, psoriasis merupakan penyakit inflamasi sistemik. Secara histopatologik, lesi psoriasis berupa hiperkeratosis, parakeratosis dan akantosis, dengan temuan khas berupa mikroabses Munro dan pustula spongiform Kogoj. Patogenesis psoriasis dimediasi oleh interaksi sistem imun bawaan dan adaptif, melalui aktivasi sel T, sel dendritik dan keratinosit. Kompleks autoantigen, seperti LL-37 dan ADAMTSL5, serta PLA2G4D memicu produksi sitokin proinflamasi (IL-23, IL-17, TNF-α) yang menstimulasi proliferasi keratinosit, membentuk positive feedback loop. Jalur pensinyalan Janus kinase–Signal Transducer and Activator of Transcription (JAK-STAT) memegang peranan penting dalam kaskade IL-23/Th17 yang mendorong hiperproliferasi epidermis dan ekspresi gen inflamasi. Aktivasi STAT3 di keratinosit tidak hanya meningkatkan proliferasi, tetapi juga berkontribusi pada diferensiasi abnormal dan resistensi apoptosis. Sejalan dengan pemahaman molekuler ini, JAK inhibitor (JAKi) muncul sebagai terapi target baru yang menjanjikan. JAKi bekerja dengan menghambat fosforilasi JAK sehingga memutus sinyal sitokin ke inti sel. Obat seperti tofacitinib dan deucravacitinib (TYK2 inhibitor) telah menunjukkan perbaikan klinik signifikan dengan profil keamanan yang kompetitif dibanding terapi biologik konvensional. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai efikasi jangka panjang dan keamanan penggunaan JAKi. Pemahaman mendalam mengenai patogenesis, ekspresi JAK-STAT, serta korelasinya dengan derajat histopatologik sangat penting untuk mendukung diagnosis, menilai prognosis, dan mengarahkan terapi.
