Pratista Patologi http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal <h3 style="text-align: center;">Majalah Pratista Patologi</h3> <p style="text-align: center;">Diterbitkan Oleh Paguyuban Patologi Pratista Sejak 2010</p> <table style="height: 391px;" width="866"> <tbody> <tr> <td><img style="margin-right: 10px;" src="http://majalahpratistapatologi.com/p/public/journals/1/covermpp.jpg" alt="" width="184" height="237"></td> <td> <p>Paguyuban Patologi Pratista suatu organisasi yang menghimpun staf dan pensiunan staf pengajar Departemen Patologi Anatomik FKUI, dalam program kerjanya antara lain memasukkan masalah peningkatan/penyegaran dalam bidang ilmu patologi untuk para anggota khususnya, peminat ilmu patologi umumnya.</p> <br>Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut, mulai akhir 2010, diterbitkan Pratista Patologi, suatu majalah yang memuat tinjauan pustaka dalam ilmu patologi. Makalah tinjauan pustaka ini, dengan izin Departemen Patologi Anatomk FKUI, kami ambilkan dari bahan referat PPDS-PA semester II dan III di Departemen Patologi Anatomik FKUI.<br><br style="color: #666666; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16.8px;">Departemen Patologi Anatomik,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia <br>Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002 <br>Telepon/Fax : (021) 31907911</td> </tr> </tbody> </table> <p>&nbsp;</p> en-US Kusmardi@gmail.com (Prof. Dr. Drs. Kusmardi, MS.) jayapram@gmail.com (Jaya Pramana) Mon, 12 Jan 2026 06:43:42 +0000 OJS 3.1.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Regulasi Protein Caspase 3 pada Mekanisme Apoptosis Kanker Payudara http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/154 <p>Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Karsinogenesis kanker payudara melibatkan mutasi genetik, faktor hormonal, dan ketidakseimbangan regulasi apoptosis. Apoptosis adalah mekanisme utama dalam mengontrol proliferasi sel kanker payudara, dimana caspase-3 berperan sebagai caspase eksekutor yang memediasi degradasi protein struktural, fragmentasi DNA, dan disintegrasi sitoskeleton. Aktivasi caspase-3 dapat melalui jalur intrinsik, yang dipicu oleh pelepasan sitokrom c dari mitokondria, maupun jalur ekstrinsik yang melibatkan interaksi ligan dengan reseptor kematian, seperti Fas dan TNF. Penurunan ekspresi caspase-3 berkontribusi terhadap resistensi kanker payudara. Oleh karena itu, pemahaman mengenai regulasi caspase-3 dalam jalur apoptosis dapat menjadi dasar pengembangan terapi berbasis induksi apoptosis yang lebih efektif dalam menekan pertumbuhan dan metastasis sel kanker payudara.</p> Ria Kodariah, Arief Prasetyo, Galuh Oktavya ##submission.copyrightStatement## http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/154 Mon, 12 Jan 2026 00:00:00 +0000 Peran Jalur Pensinyalan Janus Kinase-Signal Transducer And Activator Of Transcription (Jak-Stat) Pada Patogenesis Psoriasis http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/155 <p>Psoriasis adalah penyakit inflamasi kulit kronis dengan prevalensi global bervariasi antara 0,14–1,99% dan melibatkan faktor genetik, lingkungan, serta imunologik yang kompleks. Bentuk paling umum adalah psoriasis vulgaris, ditandai lesi eritematosa dan skuamosa yang dapat terjadi di seluruh tubuh, namun sering terjadi di area ekstensor dan kulit kepala. Selain menyebabkan manifestasi kulit, psoriasis merupakan penyakit inflamasi sistemik. Secara histopatologik, lesi psoriasis berupa hiperkeratosis, parakeratosis dan akantosis, dengan temuan khas berupa mikroabses Munro dan pustula spongiform Kogoj. Patogenesis psoriasis dimediasi oleh interaksi sistem imun bawaan dan adaptif, melalui aktivasi sel T, sel dendritik dan keratinosit. Kompleks autoantigen, seperti LL-37 dan ADAMTSL5, serta PLA2G4D memicu produksi sitokin proinflamasi (IL-23, IL-17, TNF-α) yang menstimulasi proliferasi keratinosit, membentuk <em>positive feedback loop</em>. Jalur pensinyalan <em>Janus kinase–Signal Transducer and Activator of Transcription</em> (JAK-STAT) memegang peranan penting dalam kaskade IL-23/Th17 yang mendorong hiperproliferasi epidermis dan ekspresi gen inflamasi. Aktivasi STAT3 di keratinosit tidak hanya meningkatkan proliferasi, tetapi juga berkontribusi pada diferensiasi abnormal dan resistensi apoptosis. Sejalan dengan pemahaman molekuler ini, JAK <em>inhibitor</em> (JAKi) muncul sebagai terapi target baru yang menjanjikan. JAKi bekerja dengan menghambat fosforilasi JAK sehingga memutus sinyal sitokin ke inti sel. Obat seperti tofacitinib dan deucravacitinib (TYK2 inhibitor) telah menunjukkan perbaikan klinik signifikan dengan profil keamanan yang kompetitif dibanding terapi biologik konvensional. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai efikasi jangka panjang dan keamanan penggunaan JAKi. Pemahaman mendalam mengenai patogenesis, ekspresi JAK-STAT, serta korelasinya dengan derajat histopatologik sangat penting untuk mendukung diagnosis, menilai prognosis, dan mengarahkan terapi.</p> Olivia Josephine, Riesye Arisanty, Endah Zuraidah ##submission.copyrightStatement## http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/155 Mon, 12 Jan 2026 09:10:49 +0000 Revealing Mast Cell as The Primary Biological Transducers in Acupuncture Effect http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/153 <p>Acupuncture has been used for millennia to treat various ailments, yet its biological basis remained elusive until the discovery of the "neuro-immune-endocrine" network. Central to this network is the mast cell (MC). Research indicates that acupoints (meridian points) are characterized by a significantly higher density of mast cells compared to non-acupoint areas. When an acupuncture needle is inserted and manipulated—specifically through lifting, thrusting, or rotation—it creates a mechanical pull on the surrounding connective tissue. This mechanical stress is converted into biochemical signals via a process known as mechanotransduction. Mast cells at the acupoint act as biosensors, detecting this tension through transient receptor potential (TRP) channels. This triggers degranulation, the process by which MCs release a cocktail of bioactive mediators, including histamine, adenosine triphosphate (ATP), tryptase, and cytokines. These mediators subsequently activate local nerve endings (C-fibers) and increase local blood flow, initiating a signaling cascade that reaches the central nervous system to modulate pain and systemic inflammation. This summary explores the specific pathways of MC activation, the chemical nature of their degranulation, and their indispensable role in the "acupuncture effect." In this article, we provide a rigorous scientific framework for the crucial role of mast cell in acupuncture benefits.</p> Dewi Sukmawati, Atikah Chalida Barasila, Lia Damayanti ##submission.copyrightStatement## http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/153 Tue, 13 Jan 2026 04:16:14 +0000 Potensi Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Penegakkan Diagnosis Patologi Penyakit Ginjal Kronik http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/156 <p>Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan global. Di Indonesia, prevalensi penyakit ginjal kronik meningkat dari 0,2% pada tahun 2013 menjadi 0,3% pada tahun 2018. Dalam praktik patologi ginjal nontumor, penggunaan pulasan khusus dan tingginya nilai interobserver variability alat-alat penilaian penentu prognosis seperti klasifikasi Banff dan MEST-C masih menjadi masalah yang krusial. Saat ini perkembangan patologi digital dan kecerdasan buatan cukup pesat, mencakup penerapannya dalam melakukan low-level tasks dan high-level tasks pada gambar digital. Salah satu jenis kecerdasan buatan, yaitu convolutional neural network (CNN) telah terbukti mampu melakukan identifikasi, segmentasi dan kuantifikasi struktur- struktur jaringan pada whole slide image (WSI). Pada sediaan patologi ginjal, CNN mampu melakukan identifikasi glomerulus dan tubulus serta komponen terkait (kapsula Bowman, sel mesangial, interstisium). Lebih lanjut, CNN juga dapat mengidentifikasi lesi-lesi pada glomerulus dan tubulus, seperti sklerosis glomerulus, proliferasi sel mesangial, fibrosis interstisial dan atrofi tubulus. Hal ini dapat menjawab permasalahan tingginya nilai interobserver variability pada alat-alat prognosis patologi ginjal. Saat ini penggunaan kecerdasan buatan dalam memulas secara digital jaringan ginjal nontumor pada WSI menjadi area penelitian yang potensial. Diharapkan penerapan kecerdasan buatan dalam patologi digital terutama di bidang patologi ginjal nontumor dapat berkontribusi dalam meningkatkan optimalisasi dan efisiensi kerja.</p> Andy Santoso Hioe, Monik Ediana Miranda, Kusmardi Kusmardi ##submission.copyrightStatement## http://majalahpratistapatologi.com/p/index.php/journal/article/view/156 Tue, 13 Jan 2026 06:11:12 +0000